Frequently asked questions

APA TUJUAN DARI PROYEK KEAMANAN SIBER E-COMMERCE UNTUK UMKM?


Proyek E-commerce dan Keamanan Siber untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) adalah proyek percontohan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi cybersecurity dari UMKM Indonesia dan mendukung integrasi mereka ke dalam perdagangan ASEAN dan global. Ini berfokus pada peningkatan kesadaran, memahami risiko dan [bagaimana] meresponnya.




SIAPA YANG AKAN MENDAPATKAN MANFAAT DARI PROYEK INI?


Usaha kecil online akan mendapat manfaat dari proyek ini - sebagai percontohan, 100 usaha kecil dari tiga kota akan dipilih sebagai peserta.




SIAPA YANG AKAN MENJALANKAN PROYEK INI?


Australia-Indonesia Centre (AIC) bekerjasama dengan asosiasi profesional TIK, akan merancang dan memberikan program percontohan melalui konsultasi dengan pemerintah provinsi, dan unit pemerintah pusat terkait, termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Koperasi dan UKM (KEMENKOPUKM).




BAGAIMANA PROYEK INI AKAN BERJALAN??


Pendekatan AIC melibatkan enam fase, dengan setiap fase membangun hasil dan pengetahuan dari (fase) sebelumnya. 1. Tahap seleksi melibatkan identifikasi dan pemilihan 100 organisasi peserta UMKM dari tiga kota, Jakarta, Bandung dan Surabaya. 2. Fase diagnostik akan menggunakan sistem untuk menilai kerentanan keamanan siber perusahaan dalam melindungi keamanan informasi dan menanggapi serangan siber. Penilaian ditetapkan berdasarkan tingkat kesadaran dan kesiapsiagaan keamanan siber organisasi - kekokohan kebijakan, proses, dan sistem mereka. Hasilnya akan membantu kita menentukan jenis dan tingkat pelatihan kompetensi yang diperlukan. 3. Fase modul pembelajaran melibatkan pengembangan modul pembelajaran yang disampaikan bersama dengan mitra lokal Indonesia. Modul akan dikirimkan melalui tatap muka dan online. Modul akan didasarkan pada standar internasional dan menyediakan jalur menuju kredensial mikro. Kredensial mikro menawarkan peserta cara untuk membangun keterampilan sesuai bidang keahlian mereka. Area yang dicakup akan mencakup desain dan pengembangan strategi keamanan siber, manajemen risiko dan mitigasi, mengembangkan rencana respon insiden keamanan siber dan mengelola insiden siber. 4. Tahap pelatihan kompetensi akan dilakukan di Jakarta dan Surabaya (atau online) oleh para pakar keamanan siber dari Australia dan Indonesia. Materi online akan tersedia untuk memperkuat sesi pelatihan. 5. Tahap sertifikasi - organisasi yang berhasil menyelesaikan pelatihan akan diberikan sertifikat kelulusan. Ini juga akan memberi organisasi jalur yang jelas untuk menerapkan standar internasional dalam keamanan informasi - sertifikasi ISO 27001. 6. Tahap evaluasi - melibatkan peninjauan program dan penyempurnaan model (pelatihan) untuk (meningkatkan) skalabilitas.




APA ITU AUSTRALIA-INDONESIA CENTRE?


Australia-Indonesia Centre diprakarsai pada tahun 2014 oleh pemerintah Indonesia dan Australia. AIC menyatukan 11 universitas terkemuka di kedua negara: Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas IPB, University of Melbourne, Monash University, University of Queensland, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Bandung dan University of Western Australia. education, innovation and culture. Misi AIC adalah untuk meningkatkan hubungan antar-individu dalam bidang sains, teknologi, pendidikan, inovasi dan kebudayaan. Fokus penelitian inti dari AIC adalah memajukan penelitian kolaboratif multidisiplin dan dengan keterlibatan erat dengan pemerintah, pemangku kepentingan komersial dan masyarakat. Bidang utama penelitian meliputi pengembangan regional, logistik, energi, kesehatan, pertanian, pemuda, ekonomi digital dan kreatif. Kunjungi website Australia-Indonesia Centre.




SIAPA YANG HARUS SAYA HUBUNGI UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT?


Pimpinan proyek in adalah Professor Caroline Chan. Direktur Indonesia untuk AIC, yang berbasis di Jakarta adalah Mr Kevin Evans.




APA ITU E-COMMERCE AID FOR TRADE FUND?


E-commerce Aid for Trade Fund adalah sebuah program bernilai $4.5 juta untuk membantu negara-negara berkembang di Indo-Pasifik memaksimalkan keuntungan perdagangan digital dengan cara meningkatkan kapabilitas e-commerce mereka. Perdagangan digital adalah cara yang semakin penting bagi kawasan Indo-Pasifik untuk terhubung dan melakukan bisnis dengan seluruh dunia. Munculnya teknologi disruptif, digitalisasi perdagangan yang sangat cepat, dan pertumbuhan e-commerce semuanya menawarkan peluang yang signifikan untuk pembangunan ekonomi dan kemakmuran bagi wilayah kita. Namun, potensi ini hanya dapat diwujudkan melalui pengembangan lingkungan yang memungkinkan perdagangan digital yang efektif. Program ini bertujuan untuk memberikan organisasi dan pemerintah di seluruh Indo-Pasifik dukungan untuk mengatasi hambatan e-commerce, membangun kemampuan e-commerce yang lebih besar dan memanfaatkan peluang perdagangan digital. Dengan membantu negara-negara berkembang mendapatkan hasil maksimal dari perdagangan digital, program ini membangun komitmen berkelanjutan Pemerintah Australia untuk membantu mendorong perkembangan ekonomi Indo-Pasifik.